RANCANGAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DENGAN PENDEKATAN ENGLISH FOR SPECIFIC PURPOSES UNTUK MAHASISWA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MATARAM

I Made Sujana, Sribagus dan Arifuddin (EED, the University of Mataram)

  1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa Inggris dalam era globalisasi dirasakan semakin memegang peranan penting. Penguasaan bahasa Inggris saat ini (lebih-lebih lagi di masa mendatang) merupakan salah satu prasyarat penting bagi seseorang dalam menghadapi persaingan kerja dan akan menentukan perkembangan karir seseorang. Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat, misalnya, kebutuhan bahasa Inggris semakin dirasakan urgensinya sejalan dengan perkembangan pariwisata dan bermunculannya perusahan-perusahan asing di daerah ini.

            Kebutuhan akan penguasaan bahasa Inggris di masa mendatang menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga kerja. Kalau mau memenangkan persaingan dalam dunia kerja perguruan tinggi harus membekali lulusannya dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai. Hal semacam ini telah mulai dirintis oleh perguruan tinggi di Jawa dan Sumatra dengan mempersyaratkan lulusannya dengan penguasaan bahasa Inggris tertentu (yang lebih dikenal dengan S1 Plus). Disamping itu, bagi mahasiswa, memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang memadai akan sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah terutama dalam membaca buku-buku teks berbahasa Inggris.

            Untuk menjawab semua tantangan di atas diperlukan adanya pembenahan pengajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa Program Studi non-bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan perancangan dan pengajaran yang lebih tepat dengan menempatkan kebutuhan pembelajar sebagai isu sentral dalam perancangan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penerapan pendekatan English for Specific Purposes (ESP) dimana pembelajar dan kebutuhannya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan proses dan arah pembelajaran sehingga pencapaian tujuan pengajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien (Hutchinson & Waters, 1987; Robinson, 1991). Tujuan utama dari pembelajaran dengan pendekatan ini adalah untuk membantu pembelajar agar dapat menguasai bahasa Inggris dalam waktu singkat dan tepat guna sesuai dengan bidang ilmunya (kebutuhannya) masing-masing.

            Bagi mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram, penguasaan bahasa Inggris semakin dirasakan urgensinya sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat serta persaingan kerja yang semakin tinggi. Untuk itu diperlukan adanya pembenahan pengajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik baik yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Inggris untuk tujuan akademis maupun yang berkaitan dengan bahasa Inggris untuk mengantisipasi persaingan kerja.

            Selama ini pengajaran bahasa Inggris di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Unram dilimpahkan ke program studi bahasa Inggris FKIP Unram. Pola pengajaran masih secara tradisional dengan kelas besar tanpa ada keseragaman materi, silabus, tanpa quality control, analisis materi dan kebutuhan. Mulai tahun akademik 2000/2001 mata kuliah bahasa Inggris (dan beberapa mata kuliah MKU lainnya), khusus di Program Studi Teknik Sipil ditiadakan dalam kurikulum dengan pertimbangan mahasiswa akan mampu mengembangkan kemampuan bahasa Inggris secara mandiri, disamping pemberian kuliah bahasa Inggris dengan hanya 2 sks tidak terlalu banyak memberikan kontribusi.

            Akan tetapi usaha ke arah perbaikan penguasaan bahasa Inggris untuk mahasiswa Fakultas Teknik sudah mulai dipikirkan lebih serius oleh pimpinan fakultas. Ini terbukti dengan diprioritaskannya bahasa Inggris dalam proyek-proyek seperti Due-like. Niat baik pengembangan bahasa Inggris mahasiswa harus disambut oleh para praktisi dalam pengajaran bahasa Inggris dengan mengadakan perancangan yang matang melalui penelitian yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Inggris baik untuk mahasiswa Program Studi Teknik Sipil maupun untuk mahasiswa Fakultas Teknik secara keseluruhan.

            Penelitian ini bertujuan untuk mencari bentuk dan pola pengajaran bahasa Inggris di Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Mataram dengan menggunakan pendekatan ESP (English for Specific Purpose) dimana kebutuhan pembelajar merupakan faktor terpenting dalam menentukan pengambilan keputusan suatu pengajaran.

 

1.2. Permasalahan

            Melihat kebutuhan dan kendala di atas penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali pengajaran bahasa Inggris di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram dengan melakukan analisis kebutuhan mahasiswa dalam belajar bahasa Inggris sebagai landasan untuk membuat rancangan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih baik. Selanjutnya permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini diformulasikan sebagai berikut:

  1. Bagaimana kemampuan (entry point) bahasa Inggris mahasiswa semester atas Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Unram ?
  2. Bagaimana kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa semester atas Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Unram?
  3. Bagaimana rancangan pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester atas Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram berdasarkan analisis kebutuhan di atas?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui kemampuan bahasa Inggris mahasiswa semester atas untuk menetukan “starting point” pengajaran.
  2. Untuk mengetahui kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa semester atas dari berbagai aspek seperti kebutuhan (neccessities), keinginan (wants), dan kekurangan (lacks).
  3. Membuat rekomendasi silabus pembelajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester atas Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram.

1.4 Manfaat Hasil Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi tentang kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki oleh lulusan sekolah menengah (SMU/SMK).
  2. Memberikan informasi tentang kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa semester atas Fakultas Teknik dari berbagai aspek yaitu necessities (kebutuhan target), wants (kebutuhan mahasiswa secara personal), dan lacks (kemampuan awal mahasiswa).
  3. Dapat dijadikan dasar pengembangan program pengajaran MKDK bahasa Inggris untuk Program Studi non-bahasa Inggris di Universitas Mataram.
  4. Untuk memberikan rekomendasi tentang rancangan bahasa Inggris yang dibutuhkan dalam persaingan pasar kerja.
  5. Untuk memberikan masukan kepada pembuat kebijakan dalam rangka menentukan arah pembelajaran MKDK bahasa Inggris dan bahasa Inggris umum di perguruan tinggi.
  1. METODE PENELITIAN

2.1 Populasi dan Sampel

Subjek penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Unram yang berjumlah 421 orang. Dari jumlah tersebut diambil 51 orang mahasiswa semester atas (senior) sebagai sampel yang diseleksi dengan menggunakan Random Sampling Technique, dengan kriteria mereka minimal berada pada semester V. Dengan demikian, akan diperoleh gambaran kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa semester atas untuk selanjutnya dicarikan altenatif pengajaran bahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

2.2 Teknik Pengumpulan Data

 

Berbagai teknik telah diterapkan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, antara lain: 1) Tes Penempatan (Placement Test). Tes ini digunakan untuk mengetahui kemampuan awal mahasiswa (lacks/entry behaviour). Tes yang digunakan digunakan adalah ECSCS (English Communication Civil Service) Placement Test. 2) Wawancara dan Kuesioner. Teknik ini dipergunakan untuk mengetahui kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa. Responden yang terlibat antara lain mahasiswa, dosen Program Studi Teknik Sipil. 3) Dokumentasi. Teknik ini digunakan untuk melengkapi data yang tidak bisa dicakup dalam teknik-teknik di atas. Data yang terkumpul meliputi jumlah mahasiswa, dan tujuan pengajaran bahasa Inggris di Fakultas Teknik Unram.

 

2.3 Analisis Data

Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif digunakan dalam analisis kemampuan awal mahasiswa dengan menggunakan statistik deskriptif. Sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis hasil wawancara dan kuesioner tentang kebutuhan bahasa Inggris.

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kemampuan Bahasa Inggris Mahasiswa PS Teknik Sipil FT UNRAM

            Dengan dihapuskannya mata kuliah bahasa Inggris untuk semester I, penelitian ini lebih difokuskan pada analisis kebutuhan dan rangcangan pengajaran bahasa Inggris untuk mahasiswa semester atas (senior) yaitu mahasiswa semester VII ke atas. Dari 60 kuesioner yang disebarkan untuk mahasiswa semester atas, hanya 51 orang yang mengembalikan kuesioner dan hanya 42 orang hadir pada tes penempatan (placement tes).

            Dari data tentang profil mahasiswa ditemukan disamping belajar di lembaga pendidikan formal (SLTP, SMU, Perguruan Tinggi), mereka kebanyakan pernah mengikuti kursus di lembaga-lembaga kursus antara dua bulan sampai satu tahun. Ini berarti bahwa mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UNRAM memiliki kesadaran sendiri untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka.

            Dari hasil tes yang diukur dengan menggunakan English Communication Skills for Civil Service (ECSCS) Placement Test ditemukan bahwa kemampuan bahasa Inggris mahasiswa senior Program Studi Teknik Sipil sangat bagus. Dari 42 orang yang mengikuti tes penempatan tersebut rata-rata mereka berada pada level Pre-Intermdiate (rata-rata 71,5) dengan rentangan nilai antara 23 – 106. Data selengkapnya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 2: Hasil Placement Test Mahasiswa PS Teknik Sipil UNRAM

ECSCS Level SKOR JUMLAH MHS. PROSENTASE LEVEL
6 (+) 135 – 150 Post-Intermediate
5 111 – 134 Upper-Intermediate
4 87 – 110 10 23,8 Intermediate
3 63 – 86 17 40,5 Pre-Intermediate
2 37 – 62 13 30,9 Elementary
1 00 – 36 2 4,7 Foundation

            Dari data di atas diperoleh gambaran bahwa kemampuan bahasa Inggris mahasiswa semester atas (semester VII ke atas) PS Teknik Sipil cukup tinggi. Dari 42 mahasiswa, 23,8% (10 responden) memiliki kemampuan bahasa Inggris pada tingkat intermediate dengan rentangan skor 88 – 106; 40,5% (17responden) berada pada level Pre-Intermediate dengan rentangan skor 64 – 86; 30,9% (13 responden) berada pada level elementary; dan hanya 4,7% (2 responden) berada pada level foundation/basic.

            Kalau dibandingkan dengan 2 studi sebelumnya yang melibatkan mahasiswa Fakultas Pertanian UNRAM (Tim MKDK Bahasa Inggris Pusat Bahasa UNRAM, 1999) dan Fakultas Ekonomi UNRAM (Sujana, dkk., 2000) maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa semester atas PS Teknik Sipil memiliki kemampuan bahasa Inggris jauh lebih baik. Kemampuan bahasa Inggris dari kedua kelompok di atas hanya berada pada level basic/elementary, dengan rentangan nilai antara 0 – 62 dengan menggunakan tes yang sama.

            Melihat kemampuan awal yang dimiliki, mahasiswa semester atas PS Teknik Sipil sudah siap diarahkan pada materi yang bermuatan English for Specific Purpose apakah untuk tujuan melanjutkan studi (English for Academic Purposes/EAP) maupun untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja (English for Occupational Purposes/EOP) karena mahasiswa telah memiliki kemampuan dasar berbahasa Inggris sebagai syarat untuk memasuki dunia ESP.

3.2 Analisis Kebutuhan

3.2.1 Tujuan Belajar Bahasa Inggris

Dari data yang dikumpulkan melalui kuesioner kepada 51 mahasiswa semester VII ke atas diperoleh gambaran tentang tujuan belajar bahasa Inggris yang ingin dicapai oleh mahasiswa PS Teknik Sipil UNRAM. Walaupun terjadi heterogenitas tujuan pembelajaran sebagaimana ditemukan dalam penelitian-penelitian serupa sebelumnya (lihat Tim MKDK Pusat Bahasa UNRAM, 1999; Sujana, dkk., 2000), tetapi secara umum tujuan tersebut bisa dikategorikan ke dalam 2 kategori besar yaitu (1) belajar bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri pada perkuliahan (EAP) dan (2) untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi persaingan kerja (EOP). Untuk persiapan EAP mahasiswa merasa perlu meningkatkan kemampuan membaca sehingga mampu membaca referensi dalam bidang teknik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Sementara untuk menghadapi persaingan kerja mahasiswa merasa perlu mempersiapkan diri menguasai bahasa Inggris yang memadai terutama kemampuan berkomunikasi lisan. Data selengkapnya tentang tujuan mahasiswa belajar bahasa Inggris disajikan pada tabel berikut:

Tabel 3: Tujuan Belajar Bahasa Inggris (N=51)

Rank. Spk.

(%)

Read

(%)

Ke LN

(%)

Kerja

(%)

Writ..

(%)

Form.

(%)

Terj.

(%)

Lain-Lain Total
1 35

(68,6)

4

(7,8)

1

(1,9)

8

(15,6)

1

(1,9)

51
2 10

(19,6

15

(29,4)

4

(7,8)

16

31,3

5

(9,8)

1

(1,9)

51
3 4

(7,8)

15

(29,4)

5

(9,8)

7

(13,7)

11

(21,5)

3

(5,8)

6

(11,7)

51
4 12

(23,5)

2

(3,9)

5

(9,8)

17

(33,3)

4

(7,8)

9

(17,6)

2

(3,9)

51
5 5

(9,8)

11

(21,5)

6

(11,7)

6

(11,6)

6

(11,7)

14

(27,4)

1

(1,9)

49

Tabel di atas menunjukkan bahwa adanya variasi tujuan belajar bahasa Inggris yang dirasakan oleh mahasiswa semester atas Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram. Dari 51 mahasiswa, 35 mahasiswa atau 68,6% menempatkan peningkatan kemampuan berkomunikasi sebagai prioritas utama dalam belajar bahasa Inggris. Sebagaimana diakui oleh mahasiswa dalam wawancara, kemampuan berkomunikasi sangat dibutuhkan dalam melamar dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahan besar serta mengantisipasi persaingan global di masa mendatang. Hal ini sejalan dengan penempatan persiapan melamar kerja sebagai prioritas utama kedua, dimana 15,6% responden menempatkan tujuan ini sebagai pilihan utama, diikuti oleh peningkatan kemampuan membaca teks berbahasa Inggris sebagai prioritas utama ketiga (7,8%).

            Pada skala prioritas (ranking 2) kemampuan berbahasa Inggris yang diperlukan untuk melamar kerja menjadi prioritas utama yaitu 16 responden (31,3%), diikuti peningkatan kemampuan membaca (Reading) 15 reponden (29,4%) dan kemampuan untuk berkomunikasi (Speaking) 10 responden (19,6%).

            Pada ranking ketiga terlihat bahwa kemampuan berkomunikasi dan kemampuan menulis (Writing) mendapat prioritas utama, masing-masing 15 responden (29,4%) dan 11 responden (21,5%). Pada ranking ke 4 juga terlihat kebutuhan  bahasa Inggris untuk menulis (17 responden/33,3%) sebagai urutan pertama, diikuti peningkatan kemampuan membaca (23,5%), dan terjemahan (17,6%). Sementara pada ranking kelima, penerjemahan berada pada urutan pertama dengan 27,4%, diikuti persiapan ke luar negeri (21,5%), dan membaca (9,8)

            Sebagaimana disebutkan dalam tinjauan pustaka bahwa kalau calon pembelajar heterogen maka perlu dirancang desain pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan mayoritas pembelajar. Untuk mendapatkan gambaran tujuan belajar bahasa Inggris secara mayoritas, perlu dilakukan analisis yang lebih luas dan mendalam dengan melihat frekuensi tiga prioritas tujuan belajar bahasa Inggris pada masing-masing mahasiswa. Dengan demikian, kebutuhan belajar bahasa Inggris secara mayoritas dapat terpenuhi. Dari data di atas, frekuensi tiga prioritas tujuan belajar bahasa Inggris sebagai berikut:

Tabel 4: Tiga Prioritas Tujuan belajar Bahasa Inggris (N=51)

Rank. Spk.

(%)

Read

(%)

Ke LN

(%)

Kerja

(%)

Writ..

(%)

Form.

(%)

Terj.

(%)

Lain-Lain Total
1 35

(68,6)

4

(7,8)

1

(1,9)

8

(15,6)

1

(1,9)

49
2 10

(19,6

15

(29,4)

4

(7,8)

16

31,3

5

(9,8)

1

(1,9)

51
3 4

(7,8)

15

(29,4)

5

(9,8)

7

(13,7)

11

(21,5)

3

(5,8)

6

(11,7)

51
Total 49

(32,5)

34

(22,5)

10

(6,6)

31

(20,5)

17

(11,5)

3

(2,0)

7

(4,6)

151

            Dari tabel tersebut diperoleh gambaran tentang tiga skala prioritas mahasiswa semester atas Program Studi Teknik Sipil Unram dalam belajar bahasa Inggris, yaitu (1) untuk meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris (32,5%); (2) Untuk meningkatkan kemampuan membaca teks bahasa Inggris (22,5%); (3) untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja (20,5%); (4) untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam bahasa Inggris (11,3%); dan (5) untuk mempersiapkan diri melanjutkan studi ke luar negeri (6,6%).

            Dari skala prioritas tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan mereka belajar bahasa Inggris adalah untuk (1) mempersiapkan diri dalam memasuki dunia kerja (English for Occupational Purposes) yang harus ditunjang dengan kemampuan berkomunikasi yang memadai; dan (2) meningkatkan kemampuan yang berkaitan dengan akademis (English for Academic Purposes) yaitu meningkatkan kemampuan Reading dan Writing.

            Selanjutnya dalam perancangan pengajaran bahasa Inggris aspek-aspek yang mendukung pencapaian kedua tujuan tersebut harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.

3.2.2 Ketrampilan yang Penting Dikembangkan

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa mahasiswa semester atas memiliki daya antispasi yang cukup tinggi terhadap perlunya kemampuan berbahasa Inggris dalam memasuki dunia kerja. Dari data yang terkumpul berkaiatan dengan ketrampilan yang mendesak untuk ditingkatkan diperoleh gambaran bahwa untuk mengantispasi dunia kerja diperlukan kemampuan berkomunikasi yang memadai. Data selengkapnya tentang skala prioritas ketrampilan yang ingin dikembangkan dapat dilihat pada tabel berikut:

      Tabel 5: Prioritas Ketrampilan yang Ingin Dikembangkan

No Ketrampilan Total Respon. Persentase
1 Speaking 44 86,2
2 Listening 2 3,9
3 Reading 2 3,9
4 Writing 3 5,8
  TOTAL 51 99,8

Dari 51 responden, 44 (86,2%) menempatkan pentingnya peningkatan ketrampilan berbicara sebagai skala prioritas dalam belajar bahasa Inggris untuk mengantisipasi persaingan dunia kerja setelah menyelesaikan studi. Hal ini sejalan dengan tujuan mereka belajar bahasa Inggris sebagaimana disebutkan di atas dimana 68% responden menempatkan peningkatan kemampuan berbicara sebagai prioritas pertama.

3.2.3 Preferensi Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar

Pencapaian hasil belajar sangat tergantung pada selera belajar seseorang dan setiap individu memiliki cara belajar sendiri-sendiri dalam mengoptimalkan pencapaian hasil belajar tersebut. Dari butir kuesioner yang berkaitan tentang selera belajar mengajar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris ditemukan adanya perbedaan pendekatan maupun kegiatan yang disukai. Akan tetapi dalam perancangan desain pembelajaran perlu adanya pemenuhan pendekatan dan selera belajar secara mayoritas dengan tetap mempertimbangkan perbendaan-perbedaan tersebut dengan bentul-bentuk pengajaran yang lain seperti pembuatan materi yang memberikan kebebasan pembelajar untuk belajar secara mandiri. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada table berikut:

      Tabel 6: Pendekatan Belajar Bahasa Inggris

No Pendekatan Belajar Total Respon. Persentase
1 Grammar 8 15,6
2 Pronunciation 2 3,9
3 Vocabulary 4 7,8
4 Textbooks 2 3,9
5. Writing 3 5,8
6 Communication 32 62,7
  TOTAL 51 99,7

            Tabel di atas menunjukkan adanya variasi pendekatan yang disukai mahasiswa dalam rangka meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Mayoritas (62,7%) mahasiswa menyukai pendekatan dengan berkomunikasi langsung dalam bahasa Inggris; tetapi ada juga menyukai pedekatan grammar (15,6%), dengan mempelajari kosa kata baru (7,8%), melalui Writing (5,8%) dan melalui Pronunciation dan membaca buku teks masing-masing 3,9%.

            Sedangkan kegiatan belajar mengajar yang disukai oleh mahasiswa adalah latihan-latihan kelompok kecil dan berpasangan. Dari 51 responden 22 orang (43,1%) diantaranya menyukai latihan dalam kelompok kecil; 16 orang (31,3%) menginginkan kegiatan latihan secara berpasangan; 8 orang (15,6%) menyukai latihan seluruh kelas; dan hanya 5 orang (9,8%) yang menyukai belajar secara mandiri.

 

3.2.4 Aspek Berbahasa yang Ingin Dikembangkan

Dalam proses belajar mengajar, pembelajar selalu memiliki skala prioritas aspek-aspek kebahasaan yang ingin dikembangkan untuk menunjang kemampuan berbahasa secara makro. Dan setiap individu selalu memiliki perbedaan dalam melihat aspek yang ingin dikembangkan untuk menudukung kemampuan berbahasa secara makro. Berikut ini adalah data tentang aspek yang ingin dikembangkan mahasiswa semester atas Teknik Sipil UNRAM dalam pengajaran bahasa Inggris.

Tabel 7: Aspek Berbahasa yang Ingin Dikembangkan

Rank. Voc.

(%)

Gr.

(%)

Lis.

(%)

Com.

(%)

Read

(%)

Writ.

(%)

Total
1 5

(9,8)

3

(5,8)

3

(5,8)

30

(58,8)

3

(5,8)

7

(13,7)

51
2 11

(21,5)

8

(15,6)

7

(13,7)

13

(25,4)

7

(13,7)

5

(9,8)

51
3 8

(15,6)

11

21,5)

11

(21,5)

1

(1,9)

8

(15,6)

12

(23,5)

51
4 8

(15,6)

11

(21,5)

14

(27,4)

2

(3,9)

8

(15,6)

6

(11,7)

51
5 7

(13,7)

10

(19,6)

9

(17,6)

3

(5,8)

13

(25,4)

9

(17,6)

51
6 11

(21,5)

8

(15,6)

7

(13,7)

1

(1,9)

11

(21,5)

12

(23,5)

51

            Data di atas menunjukkan adanya variasi skala prioritas tentang aspek kebahasaan yang ingin dikembangkan dalam belajar bahasa Inggris. Sejalan dengan tujuan mereka belajar bahasa Inggris secara mayoritas yaitu untuk meningkatkan kemampuan berbicara, 58,8% dari responden menempatkan aspek komunikasi bahasa Inggis secara langsung sebagai prioritas pertama, disusul dengan pengembangan kemampuan menulis (13,7%), kosakata (9,8%), serta membaca, menyimak, dan tata bahasa masing-masing 5,8%.

            Sebagai prioritas kedua, peningkatan kemampuan berkomunikasi masih menempati urutan pertama (25,4%) disusul dengan peningkatan kosa kata (21,5%), pengembangan tatabahasa Inggris (15,6%), menyimak dan membaca masing-masing 13,7% dan menulis (9,8%).

            Sementara sebagai prioritas ketiga, responden menempatkan pentingnya peningkatan kemampuan menulis pada urutan pertama (23,5%), disusul dengan peningkatan kemampuan tata bahasa dan menyimak masing-masing 21,5%, membaca dan kosa kata masing-masing 15,6%, dan komunikasi (1,9%).

            Kalau diamati distribusi data di atas maka akan terlihat jelas adanya perbedaan individu dalam belajar bahasa Inggris. Semua ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa setiap individu memiliki, minat, motivasi, kegemaran, cara belajar, kemampuan, dan kiat-kiat belajar tersendiri yang berbeda dengan individu lainnya.

            Dalam perancangan silabus dengan pendekatan ESP, segala aspek harus diperhitungkan secara cermat termasuk perbedaan individu di atas. Walaupun demikian, ini tidak berarti bahwa dalam merancang silabus, keinginan personal (wants) menjadi prioritas utama; karena akan menghasilkan multi-silabus dan tujuan pengajaran menjadi tidak jelas. Dalam hal ini, perancang silabus tetap harus mencari kebutuhan dominan dari suatu kelompok pembelajar. Untuk mendapatkan dominansi dari aspek yang ingin dikembangkan oleh mahasiswa perlu dianalisis minimal tiga prioritas yang ingin dikembangkan masing-masing mahasiswa dengan melihat frekuensi pilihan. Dengan demikian akan diperoleh gambaran tentang aspek apa yang menjadi prioritas dalam silabus. Berikut adalah frekuensi tiga aspek prioritas yang ingin dikembangkan:

Tabel 8: Aspek Berbahasa yang Ingin Dikembangkan

Rank. Voc.

(%)

Gr.

(%)

Lis.

(%)

Com.

(%)

Read

(%)

Writ.

(%)

Total
1 5

(9,8)

3

(5,8)

3

(5,8)

30

(58,8)

3

(5,8)

7

(13,7)

51
2 11

(21,5)

8

(15,6)

7

(13,7)

13

(25,4)

7

(13,7)

5

(9,8)

51
3 8

(15,6)

11

21,5)

11

(21,5)

1

(1,9)

8

(15,6)

12

(23,5)

51
TOTAL 24

(15,7)

22

(14,4)

21

(13,7)

44

(28,8)

18

(11,8)

24

(15,7)

153

            Dari data di atas diperoleh gambaran dominansi dari aspek yang ingin dikembangkan oleh responden dalam belajar bahasa Inggris. Dari tiga proritas utama masing-masing responden ditemukan bahwa peningkatan aspek komunikasi menempati urutan pertama (44 responden/28,8%), disusul dengan peningkatan kosa kata dan menulis masing-masing 24 reponden (15,7%), tata bahasa (14,4%), menyimak (13,7%), dan membaca (11,8%). Dengan demikian dalam perancangan silabus urutan-urutan ini harus diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan pembelajar secara mayoritas. Untuk memenuhi keinginan personal (wants) yang sangat bervariasi bisa diintegrasikan antara pengajaran klasikal dengan program belajar mandiri (self access language leraning/SALL) dimana pembelajar dapat mengembangkan kemampuan bahasa Inggris mereka sesuai dengan kemampuan, minat, dan kecepatan sendiri.

 

3.2.5 Justifikasi dan Saran Mahasiswa tentang Program Pengajaran Bahasa Inggris

 

            Mata kuliah bahasa Inggris sebelum tahun akademik 2000/2001 merupakan mata kuliah wajib dengan bobot 2 sks. Pengelolaan pengajaran bahasa Inggris pada era ini dipercayakan kepada dosen-dosen dari Program Studi Bahasa Inggris FKIP UNRAM. Dengan jumlah sks yang sangat minim, materi diarahkan kepada penguasaan bahasa Inggris umum (General English) yang sedapat mungkin diselipkan dengan bacaan dan kosa-kata yang berkaitan bidang keahlian teknik sipil.

            Mulai tahun akademik 2000/2001 mata kuliah di Program Studi Teknik Sipil UNRAM secara lokal dihapuskan dengan pertimbangan bahwa mahasiswa dapat belajar secara mandiri. Akan tetapi pihak Program Studi telah memikirkan usaha peningkatan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa dengan memasukkan program bahasa Inggris dalam proyek DUE-LIKE.

            Dari hasil kuesioner tentang justifikasi pengajaran MKDK bahasa Inggris yang dilaksanakan di Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram diperoleh gambaran perlunya pembenahan-pembenahan untuk meningkatkan penguasaan bahasa Inggris. Justifikasi selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 9: Justifikasi Program Pengajaran Bahasa Inggris di PS Teknik Sipil

No Aspek Penilaian
    1 2 3
a. Jumlah mhs. dalam 1 kels 5

(9,8)

9

(17,6)

37

(72,5)

b. Jumlah sks 33

(64,7)

17

(33,3)

1

(1,9)

c. Porsi materi 30

(58,8)

21

(41,2)

d. Kesesuaian materi dengan kebutuhan 37

(72,5)

14

(27,4)

e. Cara penyajian materi 18

(35,7)

23

(45,0)

10

(19,6)

f. Fasilitas belajar 43

(84,3)

8

(15,7)

g. Frekuensi latihan 47

(92,2)

4

(7,8)

Keterangan: 1 kurang; 2 sedang; 3 banyak

            Data di atas menunjukkan penilaian mahasiswa tentang program pengajaran bahasa Inggris yang berjalan di Program Studi Teknik Sipil UNRAM. Dari data tersebut, perlu kiranya diadakan peninjauan kembali baik menyangkut jumlah mahasiswa dalam satu kelas, jumlah sks, kebutuhan mahasiswa, maupun peningkatan fasilitas belajar Dalam belajar mata kuliah yang bersifat ketrampilan seperti bahasa Inggris diperlukan adanya kelas kecil untuk memudahkan pengelolaan kelas dan memperbanyak porsi latihan di kelas. Dari 51 responden, 72,5% menilai bahwa jumlah mahasiswa dalam  satu kelas terlalu besar. Konsekuensi dari kelas besar adalah kurangnya frekuensi latihan dalam kelas. Berkaitan dengan kesempatan menggunakan bahasa Inggris di kelas, 92,1% mahasiswa menilai bahwa porsi latihan sangat minim. Dengan demikian sangatlah urgen untuk membentuk kelas kecil (maksimal 20 mahasiswa dalam satu kelas). Dengan demikian akan terjadi interaksi yang maksimal dalam proses belajar mengajar.

            Berkaiatan dengan jumlah sks, mahasiswa menilai perlu adanya penambahan sks untuk mendapatkan imput atau stimulus bahasa Inggris. Tetapi penilaian mayoritas mahasiswa ini justru berbalik dengan dihapuskannya mata kuliah bahasa Inggris untuk mahasiswa Program Studi Teknik Sipil. Mereka hanya akan diberikan perkuliahan ekstra bahasa Inggris melalui proyek DUE-LIKE.

 

3.3 REKOMENDASI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

            Dalam perancangan pengajaran bahasa Inggris dengan pendekatan English for Spesific Purposes (ESP) segala aspek kebutuhan harus diperhatikan dengan seksama. Walaupun demikian, dalam perancangan program pembelajaran semua aspek kebutuhan tersebut tidak harus dipaksakan untuk dipenuhi terutama kalau variasi kebutuhannya  terlalu banyak serta keinginan individu (wants) yang bersifat heterogen. Pemenuhan kebutuhan dalam kondisi seperti ini akan menghasilkan rancangan pembelajaran yang tidak jelas dan sulit untuk diaplikasikan dalam proses belajar mengajar. Dalam kondisi seperti ini, perancang pembelajaran harus dapat merumuskan kebutuhan dominan dari suatu kelompok pembelajar sehingga akan dihasilkan suatu rancangan yang bisa diterima oleh semua kelompok.

            Dari hasil analisis kebutuhan bahasa Inggris mahasiswa semester atas (senior) PS Teknik Sipil Fakultas Teknik UNRAM ditemukan variasi-variasi kebutuhan antara mahasiswa yang satu dengan mahasiswa lainnya yang tidak jarang terjadi konflik antar kebutuhan. Berdasarkan analisis kebutuhan pada di atas, secara umum dapat ditarik beberapa simpulan :

  1. Kemampuan Bahasa Inggris Mahasiswa. Dari hasil tes penempatan, kemampuan bahasa Inggris mahasiswa semester atas PS Teknik Sipil cukup tinggi yaitu rata-rata pada level Pre-Intermediate dengan nilai rata-rata 71,5 pada tes ECSCS Placement Test. Ini berarti mahasiswa PS Teknik Sipil UNRAM telah memiliki kemampuan dasar yang memadai untuk memasuki dunia ESP sesuai dengan kebutuhan mereka.
  2. Tujuan Belajar Bahasa Inggris. Secara mayoritas tujuan mahasiswa belajar bahasa Inggris dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu untuk mengantisipasi persaingan dunia kerja dimana diperlukan kemampuan berkomunikasi lisan maupun tulis dan untuk mempersiapkan diri dalam bidang akademis baik untuk menyelesaikan S1 maupun untuk melanjutkan studi (S2). Dengan demikian, perancangan bahasa Inggris dapat diarahkan pada English for Occupational Pursposes (EOP) untuk mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja dan English for Academic Purposes (EAP) untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa Inggris dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah.
  3. Ketrampilan Berbahasa (macro skills) yang Penting Dikembangkan. Sejalan dengan tujuan mereka belajar bahasa Inggris untuk memasuki dunia kerja, mahasiswa menempatkan pentingnya peningkatan kemampuan berbicara sebagai prioritas utama dalam belajar bahasa Inggris, yang diikuti dengan peningkatan ketrampilan yang lain seperti menulis, membaca, dan menyimak.
  4. Preferensi Kegiatan Belajar Mengajar. Setiap individu memiliki preferensi dalam belajar untuk meningkatan kemampuan berbahasa Inggris. Berkaitan dengan preferensi pendekatan belajar, mahasiswa PS Teknik Sipil UNRAM juga memiliki perbedaan pendekatan yang disukai dalam belajar. Tetapi secara mayoritas mahasiswa menempatkan pendekatan komunikasi langsung dalam bahasa Inggris, diikuti dengan pendekatan grammar, vocabulary dan writing.

                        Kegiatan belajar mengajar yang disukai mahasiswa adalah latihan-latihan dalam kelompok kecil dan berpasangan.

  1. Aspek Bahasa yang Ingin Dikembangkan. Dalam kegiatan belajar mengajar pembelajar selalu memiliki skala prioritas aspek-aspek kebahasaan yang ingin dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris secara menyeluruh (macroskills). Sejalan dengan tujuan dan selera (pendekatan) belajar yang disukai, secara mayoritas mahasiswa menempatkan peningkatan berbahasa Inggris melalui komunikasi langsung sebagai aspek yang ingin dikembangkan, diikuti dengan peningkatan kosa kata dan menulis, serta peningkatan kemampuan grammar.

            Dengan melihat kebutuhan secara mayoritas dari mahasiswa semester atas PS Teknik Sipil UNRAM dapat dirancang suatu pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan mayoritas. Dengan memperhatikan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa yang rata-rata berada pada level Pre-Intermediate (dengan nilai rata-rata 71,5) mahasiswa sudah siap diarahkan pada pengembangan bahasa Inggris yang berwawasan English for Specific Purposes (ESP). Pada level ini mahasiswa sudah memiliki kemampuan dasar yang memadai untuk berkomunikasi, sehingga materi dan program pengajaran dapat diarahkan pada pengembangan bahasa Inggris untuk tujuan professional.

            Berdasarkan tujuan belajar  bahasa Inggris, jenis ESP yang bisa dikembangkan adalah peningkatan kemampuan bahasa Inggris untuk  memasuki dunia kerja atau English for Occupational Purposes (EOP) dan peningkatan kemampuan bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri memasuki dunia akademis, seperti untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Untuk EOP, program pengajaran lebih diarahkan pada persiapan untuk melamar pekerjaan (English for Jobs), yaitu tentang cara-cara membuat lamaran kerja dan curriculum vitae dalam bahasa Inggris, teknik wawancara, dan aspek-aspek bahasa lain yang berkaitan dengan melamar kerja. Sedangkan untuk EAP, lebih diarahkan pada menguasaan dalam bidang membaca dan menulis yang berkaitan dengan bidang ilmu teknik sipil.

            Dari uraian di atas, program pengajaran yang direkomendasikan untuk mahasiswa semester atas (senior) PS Teknik Sipil antara lain (1) bahasa Inggris untuk mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja yaitu English for Jobs; dan (2) dan bahasa Inggris sebagai mata kuliah dasar keahlian untuk membantu mahasiswa menyelesaikan tugas-tugas kuliah (terutama membaca dan menulis). Selanjutnya, program pengajaran masing-masing dapat dilihat pada bagian berikut.

3.4 REKOMENDASI SILABUS

  1. English for Jobs
  2. Prerequisite : Pre-Intermediate Level
  3. Course Length : 3 credits (48 hours)
  4. Course Objectives :
  5. Students are expected to have basic knowledge of writing job application letters and curriculum vitae.
  6. Students are expected to master techniques of job interview
  7. Students are expected to have basic knowledge of terms and expressions commonly used in applying for jobs.
  8. Students are expected to have verbal and non-verbal communication skills needed in job interview.
  1. Course Topics

The topics of the course will be designed integratedly, that is to say, writing, reading, speaking, listening, and related vocabulary and grammar will be presented and practiced as one unit of activities. In addition to imparting such language skills and elements, this course is designed to impart jobseeker with some general knowledge of job application. The topics to be covered are :

  1. Identifying jobseeker’s SKQEPS (skills, knowledge, qualification, experience, personal styles
  2. Writing job application
  3. Writing CV
  4. Matching SKQEPS and job requirements (advertisement)
  5. Interview skills and techniques
  6. Interview structure
  7. Interview preparation
  8. Verbal and non-verbal communication related to job application
  9. Cross-culture understanding
  10. Readings related to job application
  11. Grammar related to topics above
  12. Vocabulary related to job application
  1. English for Academic Purposes
  2. Prerequisite : Pre-Intermediate Level
  3. Course Length : 4 credits (64 hours)
  4. Course Objectives :
  5. Reading. Students are expected to show understanding of texts of various length taken either from adapted or authentic sources.
  6. Writing. Students are expected to be able to produce appropriate and adequate piece of writing with reasonable clarity and accuracy.
  7. Speaking. Students are expected to be able to communicate with reasonable effectiveness and accuracy in given topics.
  8. Listening. Students are expected to be able to show understanding of gist, factual information and of speakers’ opinion and attitudes in longer exchanges and conversations.
  9. Course Topics
READING WRITING SPEAKING LISTENING
·         Intro. to SQ3R

·         Understanding main ideas

·         Understanding relationship in passages

·         Interpreting diagrams and tables

·         Predicting unknown words

·         Understanding implied meaning

·         Making prediction, inference, conclusion

·         Understanding tone, function, and purpose of the passage

·         Etc.

·         Introto academic writing

·         Topic sentence and paragraph

·         Outlining

·         Essay organization

·         Introductory

·         paragraph.

·         Concluding

·         paragraph

·         Arguing a point

·         Describing physical details

·         Describing process

·         Compare and contrast

·         Cause and effect

·         Classification

·         Writing summary and abstract

·         Related grammar input

·         Exchanging personal information

·         Asking questions

·         Explaining and describing

·         Giving and acknowledging opinions

·         Agreeing and disagreeing

·         Talking about future plans and prediction

·         Etc.

·         All listening activities are designed to support speaking skills.

Dua silabus di atas dirancang dengan memperhatikan kebutuhan mayoritas pembelajar. Dalam silabus English for Jobs mahasiswa dibekali dengan berbagai pengetahuan berkaitan dengan persiapan melamar kerja baik dari segi teknik melamar kerja secara umum maupun kebutuhan bahasa Inggris teknis yang dibutuhkan dalam menulis lamaran kerja dan menghadapi wawancara. Untuk mencapai target tersebut mahasiswa perlu dibekali dengan kemampuan komunikasi yang memadai sehingga program pengajarannya akan lebih mengarah pada pembekalan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi.

            Sedangkan silabus English for Academic Purpose lebih diarahkan pada pembekalan untuk memasuki dunia akademis. Untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas akademis, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan membaca buku-buku teks dan jurnal yang ditulis dalam bahasa Inggris dan kemampuan untuk membuat ringkasan, abstrak dan kebutuhan menulis lainnya. Ketrampilan Speaking dan Listening dibutuhkan untuk membantu dua ketrampilan di atas. Ketrampilan ini diperlukan untuk menyempaikan gagasan, argumentasi, dan lain-lain.

            Untuk memenuhi kebutuhan personal (wants) mahasiswa, penerapan silabus tersebut harus diintegrasikan dengan program belajar mandiri sehingga aspek-aspek minoritas yang tidak dapat dimasukkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas bisa terakomodasi.

 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:

  1. Dari hasil tes penempatan, kemampuan bahasa Inggris mahasiswa semester atas PS Teknik Sipil cukup tinggi yaitu rata-rata pada level Pre-Intermediate dengan nilai rata-rata 71,5 pada tes ECSCS Placement Test. Hasil ini berbeda dengan dua penelitian sebelumnya yang melibatkan mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, dimana mereka hanya ada pada level basic dan elementary dengan rentangan nilai antara 0 -62.
  1. Dari hasil kuesioner ditemukan 68,6% mahasiswa menempatkan peningkatan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris sebagai prioritas utama, 15,6% menempatkan peningkatan bahasa Inggris untuk memasuki dunia kerja sebagai pilihan utama, diikuti dengan peningkatan kemampuan membaca buku teks (7,8%) sebagai prioritas utama.

                 Untuk mendapatkan gambaran tujuan belajar bahasa Inggris secara mayoritas, analisis dilakukan dengan melihat frekuensi tiga pilihan utama masing-masing masing-masing mahasiswa. Dari analisis tersebut ditemukan 32,5% menempatkan peningkatan kemampuan komunikasi lisan, 22,5% untuk meningkatkan kemampuan membaca, 20,5% untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk mencari kerja, 11,3% untuk tujuan menulis, 6,6% untuk belajar ke luar negeri.

                 Secara mayoritas tujuan mahasiswa belajar bahasa Inggris dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu untuk mengantisipasi persaingan dunia kerja dimana diperlukan kemampuan berkomunikasi lisan maupun tulis dan untuk mempersiapkan diri dalam bidang akademis baik untuk menyelesaikan S1 maupun untuk melanjutkan studi (S2). Dengan demikian, perancangan bahasa Inggris dapat diarahkan pada English for Occupational Pursposes (EOP) untuk mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja dan English for Academic Purposes (EAP) untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan bahasa Inggris dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

  1. Sejalan dengan tujuan mereka belajar bahasa Inggris untuk memasuki dunia kerja, mahasiswa menempatkan pentingnya peningkatan kemampuan berbicara sebagai prioritas utama dalam belajar bahasa Inggris, yang diikuti dengan peningkatan ketrampilan yang lain seperti menulis, membaca, dan menyimak.
  2. Setiap individu memiliki preferensi dalam belajar untuk meningkatan kemampuan berbahasa Inggris. Dari hasil analisis ditemukan secara mayoritas (62,7% reponden) menyukai pendekatan dengan berkomunikasi secara langsung untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, diikuti berturut-turut dengan pendekatan grammar, vocabulary dan writing. Sedangkan kegiatan belajar mengajar yang disukai mahasiswa adalah latihan-latihan dalam kelompok kecil dan berpasangan.
  3. Berkaitab dengan skala prioritas aspek-aspek kebahasaan yang ingin dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris secara menyeluruh (macroskills), 58,8% responden memilih pendekatan dengan komunikasi secara langsung sebagai prioritas utama, 13,7% menempatkan pendekatan menulis sebagai prioritas utama, 9,8% menempatkan pendekatan kosa kata sebagai prioritas utama, dan masing-masing 5,8% menempatkan pendekatan membaca, menyimak, dan tata bahasa sebagai prioritas utama.

                 Mengingat adanya variasi pendekatan belajar yang diminati mahasiswa, maka data tersebut perlu dianalisis lebih mendalam dengan melihat frekuensi tiga prioritas pendekatan pada masing-masing mahasiswa. Dari hasil analisis ditemukan 28,8% responden menyukai pendekatan komunikasi langsung, masing-masing 15,7% menyukai kegiatan menulis dan pengembangan kosa kata untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, 14,4% melalui tata bahasa, 13,7% melalui menyimak, dan 11,8% melalui membaca.

4.2 SARAN

 

  1. Pengajaran bahasa Inggris di PS Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram perlu mendapat penanganan yang lebih serius dengan memperhatikan berbagai aspek yang menentukan keberhasilan penguasaan bahasa Inggris. Pembekalan bahasa Inggris yang memadai akan membantu mahasiswa menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan dan yang lebih penting lagi adalah membantu mereka dalam persaingan dunia kerja.
  2. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam pengajaran bahasa Inggris baik untuk memenuhi tujuan kurikulum maupun untuk memenuhi tuntutan pasar, satuan kredit perlu ditambah menjadi 6 – 8 sks. Ini dapat ditempuh dengan kebijaksanaan muatan lokal atau mata kuliah pilihan (MKP). Pemberian stimulus bahasa Inggris di bangku kuliah tetap diperlukan mengingat akses belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia sangat terbatas. Penguasaan bahasa Inggris mahasiswa bisa maksimal bila ada integrasi antara stimulus di kelas dengan program belajar mandiri atas kemauan mahasiswa sendiri.
  3. PS Teknik Sipil UNRAM perlu terus meningkatkan kerjasama dengan UPT Pusat Bahasa Unram sebagai unit pelayanan teknis bidang bahasa untuk sentralisasi pengajaran bahasa Inggris. Dengan sentralisasi, pengajaran bahasa Inggris akan lebih terorganisir dalam hal pemilihan materi, ditunjang fasilitas belajar yang memadai (lab. bahasa, materi, self-access centre/SAC), kontrol kualitas oleh pihak manajemen Pusat Bahasa, pembentukan kelas kecil (15-20 mahasiswa per kelas).
  4. Kalau materi perkuliahan mengharuskan “content-based” (bermuatan bidang teknik sipil), harus ada kerjasama persiapan materi (minimal ada konsultasi) dengan dosen Fakultas Teknik. Kolaborasi antara dosen bahasa Inggris dan dosen bidang studi (subject specialists) akan memantapkan program pengajaran bahasa Inggris terutama berkaitan dengan istilah-istilah teknis dalam bidang teknik sipil.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bathia, Aban T., 1979. “ESP for Students of Science”, English Teaching Forum, Vol 12, 2  April.

Crook, Tonny, 1991. “A Skill-Bases Approach to Language Need Analysis for Hotel Personnel – A Case Study.” A Paper presented at TEFLIN Seminar 37 at FKIP Unram Mataram Lombok.

Dubin, Farida dan E. Olshtain, 1986. Course Design: developing programs and materials for language teaching. New York: CUP.

Harvey, Annamaria, 1984. “Designing an ESP Course: A Case Study” dalam English Teaching Forum. Vol. XXII, No. 1, January.

Henry, Patricia, et al., 1994. Foundation for Language Teaching. Victoria: Deakin University.

Hutchinson, Tom and Alan Walters. 1987. English for Specific Purpose. Cambridge : Cambridge University Press.

Nunan, David, 1990. The Learner-Centered Curriculum. Cambridge : Cambridge University Press.

Robinson, Pauline C. 1991.  ESP Today: Apractitioner’s Guide. New York. Prentice Hall.

Sosiowati, IGA Gde, 1992. “Need Analysis”, makalah disajikan pada Workshop Bahasa Inggris, Februari 1992 di Denpasar.

Strevens, P., 1988. “ESP after 20 Years” dalam Tickoo, ML. (ed.)  ESP: State of Art. Anthology Series 21. Singapore : RELC

Sukarno, 1991. “Teaching English at Non-English Department”. A Paper presented at TEFLIN Seminar 37 at FKIP Unram Mataram Lombok.

Sujana, I Made, dkk., 2000. “Analisis Kebutuhan dan Rancangan Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNRAM”. Laporan Penelitian didanai PPSLPT – ADB Loan.

Tarjana, Sri Samiati,1991. “Principles in Communicative Language Teaching and Their Application to ESP Classes”, TEFLIN Journal, Vol. IV, March.

Tim MKDK Bahasa Inggris Pubah Unram, 1999. Laporan Pelaksanaan MKDK Bahasa Inggris untuk Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Mataram di Pusat Bahasa Universitas Mataram. Mataram : Pusat Bahasa Unram.

Wimmer, Roger D. & Joseph R. Dominick. 1991. Mass Media Research: An introduction. California : Wadsworth Inc.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s