SATU DASAWARSA PROGRAM IN-COUNTRY BIPA RUILI AUSTRALIA – PUSAT BAHASA UNRAM, LOMBOK: Usaha Pengembangan Pariwisata Pendidikan dan Promosi Pariwisata NTB

I Made Sujana (JPBS Universitas Mataram)

Program in-Country BIPA RUILI adalah sebuah program kuliah Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) untuk mahasiswa Australia yang tergabung dalam Konsorsium Regional Universities Indonesian Language Initiative (RUILI) yang dilaksanakan di Pusat Bahasa UNRAM pada bulan Januari – Februari setiap tahun. Tanpa terasa perjalanan Program In-Country BIPA RUILI Australia – Pusat Bahasa UNRAM telah berjalan 10 tahun (2005 – 2015).

 Dalam catatan sejarah, BIPA Pusat Bahasa yang menjadi cikal bakal Program RUILI saat ini sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1996 yang diawali oleh Northern Territory University (NTU) Darwin — sekarang bernama Charles Darwin University (CDU) — sebagai alternatif Program BIPA yang diselenggarakan di Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT. Program ini berjalan sebagai realisasi dari kunjungan Dekan FKIP H.M. Husni Mu’adz, MA., Ph.D. ke NTU Darwin tahun 1994. Selanjutnya satu persatu universitas penyelenggara Program Bahasa Indonesia di Australia bergabung yaitu University of Sunshine Coast (USC), Queensland, disusul University of New England (UNE) Armidale, dan University of Tasmania (UTas) Tasmania; maka lahirlah Konsorsium RUILI, yang setiap tahun mengirimkan mahasiswanya untuk belajar Bahasa Indonesia di Universitas Mataram.

 Dalam 10 tahun perjalanannya, banyak suka duka dalam dalam mencari format penyelenggaraan Program In-Country BIPA untuk mengakomodasi berbagai perbedaan pengajaran dan tuntutan pembelajaran mahasiswa asing. Berbagai usaha dilakukan baik oleh Pusat Bahasa UNRAM maupun partner di universitas di Australia bisa berjalan dengan baik sesuai harapan kedua belah pihak.

 PROGRAM IN-COUNTRY BIPA RUILI-PUSAT BAHASA UNRAM

 Program In-Country adalah program belajar bahasa asing di tempat dimana bahasa tersebut digunakan. Keberhasilan program In-Country kalau dirancang dan dilaksanakan dengan baik akan lebih tinggi mengingat dukungan “lingkungan kaya bahasa” — kemana pun pembelajar pergi dia akan dikelilingi dengan bahasa target. Selaian itu, Program In-Country memungkikan penerapan pendekatan pembelajaran in-vitro dan in-vivo. Pada tahap in-vitro, mahasiswa belajar dan berlatih menggunakan bahasa di kelas dengan guru dan teman sekelas. Pada tahap in-vivo, mahasiswa didorong untuk melakukan kegiatan secara mandiri untuk mengumpulkan informasi dari komunikasi langsung dengan masyarakat, media cetak (surat kabar, majalah, situs web, dll.) dan media-non-cetak (video recording, tape recording, Youtube, dan lain-lain terkait dengan topik yang dipilih mahasiswa.

 Perkuliahan yang dilaksanakan di Pusat Bahasa UNRAM dalam program In-County RUILI ini merupakan ‘credit-course’, yang nilainya diakui sebagai unit kredit di universitas masing-masing. Dalam 5 tahun terakhir perjalanan program ini, terjadi perkembangan yang cukup menggembirakan dari segi jumlah mahasiswa yang mengikuti program ini dengan rata-rata mencapai di atas 50 orang. Pada tahun 2010 tercatat 74 orang, 2011 sebanyak 63, tahun 2012 sebanyak 53 orang, dan naik cukup signifikan tahun 2013 sebanyak 80 orang dan meningkat lagi pada tahun 2014  sebanyak 100 orang dan terjadi peningkatan lagi pada tahun 2015 menjadi 125 orang (Data Pusat Bahasa UNRAM, ). Pertumpbuhan yang menggembirakan dari tahun ke tahun justru di saat program In-Country BIPA secara nasional sedang melemah.

 Program BIPA di Pusat Bahasa UNRAM mengikuti pola yang ditawarkan di universitas mitra yang terdiri dari 8 jenjang (Kelas 1 – 8) dari tingkat dasar sampai tingkat mahir. Silabus dan dikembangkan berbasis tema, tiap jenjang terdiri dari 3-5 tema. Setiap jenjang terdiri dari 30 jam tatap muka dan 2 kegiatan excursion (kegiatan di luar kelas); sehingga 1 jenjang (term) diselesaikan dalam 3 minggu. Selain kegiatan formal class Pusat Bahasa juga menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler (outclass activities) seperti pencak silat, menari, olah raga, nonton bareng, gendang beleq (traditional music of Sasak people), memasak, membatik untuk memberikan mereka peluang bersosialisasi dengan masyarakat luas dan mengenal berbagai budaya Indonesia.

 Beberapa nama yang sangat gigih dan sabar memperjuangkan program BIPA RUILI Pusat Bahasa UNRAM antara lain Dr. Philip Mahnken, Dr. Richard Curtis, Associate Prof. Pam Allen, Emeritus Prof. Barbara Hatley, Mr. Steve Miller, Dr. Zifirdaus Adnan, Dr. Indrawati Zifirdaus, dan yang baru bergabung adalah Dr. Nathan Franklin. [Sudah selayaknya Pemda NTB atau Universitas Mataram memikirkan penghargaan untuk mengapresiasi usaha mereka dalam memajukan BIPA UNRAM dan mempromosikan pariwisata NTB].

 KONTRIBUSI PROGRAM RUILI DALAM PENDIDIKAN DAN PROMOSI PARIWISATA NTB

Kerjasama internasional Pusat Bahasa UNRAM dengan beberapa universitas penyelenggara Program Bahasa Indonesia di Australia telah memberikan berbagai kontribusi baik untuk staff pengajar Pusat Bahasa dan FKIP UNRAM dan juga masyarakat NTB (Lombok pada khusunya). Secara akademis, keberhasilan program seperti saat ini merupakan perjuangan yang panjang oleh semua komponen yang terlibat. Perjuangan ini menjadi sulit dan menantang karena dalam pendidikan yang lumrah berjalan adalah mahasiswa negara berkembang belajar di negara maju yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik, misalnya mahasiswa Indonesia belajar S2/S3 di Australia, Inggris atau Amerika. Dalam Program In-Country BIPA ini terjadi sebaliknya, yaitu mahasiswa negara maju belajar dalam sistem pendidikan negara berkembang. Perbedaan budaya, perbedaan pola belajar mahasiswa, harapan mahasiswa, kesiapan pengajar dengan programnya merupakan faktor-faktor penghambat dalam mengawali program. Metode mengajar, perencanaan pengajaran, pengelolaan pembelajaran, cara menilai kemajuan pembelajaran menjadi sasaran protes mahasiswa setiap program. Salah satu kritik pedas yang pernah dilontarkan oleh Dr. Philip Mahnken, dosen USC Queensland, dalam rapat terkait variasi penampilan instruktur/dosen dalam mengajar adalah “… we don’t care what qualifications they have, but what we need is teachers who are capable of making our students learn, who want to learn from their failure in class, who are willing to prepare themselves. We don’t need unprepared teachers,… We don’t need teachers with fossilized ways of teaching …”

 Berangkat dari kritikan pedas mahasiswa dan dosen yang bertubi-tubi dan sejalan dengan pengalaman dalam menjalankan program internasional, Pusat Bahasa mencoba belajar memperbaiki program dengan membuka diri menerima kritikan dari mahasiswa dan dosen Australia dan duduk bersama Pusat Bahasa dan RUILI menyelesaikan masalah demi masalah. Keberhasilan program seperti sekarang tidak lepas dari kerja keras para instruktur yang mau membuka diri untuk berubah dan terus mencari inovasi pembaharuan. Adalah Untung Waluyo, Ph.D. Mulai tahun 2009 yang memberikan kontribusi terhadap perubahan ini dengan memperkenalkan “Responsive Teaching” untuk ‘on-going professional development’ Instruktur Program BIPA di Pusat Bahasa. Responsive Teaching adalah sebuah model pengajaran yang memanfaatkan beragam karakteristik budaya, pengalaman, dan perspektif para pembelajar asing (Penutur BIPA) sebagai medium untuk merespons kebutuhan belajar yang sesuai dengan harapan peserta didik.  Definisi ini menyiratkan bahwa responsive teaching (1) melibatkan peserta didik dan/atau guru dalam berpikir reflektif melalui pemanfaatan pengetahuan budaya dan pengalaman belajar-mengajar mereka sebelumnya (prior knowledge); (2) berbasis keberagaman dan perbedaan cara belajar dan budaya belajar peserta didik; dan (3) mendorong partisipasi  peserta didik melalui kegiatan belajar yang lebih berorientasi pada kebutuhan mereka.. Pengembangan staff pada konsep ini adalah melakukan kajian dan diskusi secara rutin (weekly meeting) untuk mendiskusikan apa yang berkembang selama satu minggu baik dari “best practice” maupun “bad practice” berdasarkan informasi yang dikumpulkan berbagai pihak (manajemen, Resident Director, instruktur, mahasiswa, pegawai). Best Practice bertujuan untuk mengungkap keberhasilan program pengajaran selama 1 minggu untuk bahan sharing untuk instruktur lain dan Bad Practice digunakan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam pembelajaran dan pelaksanaan kegiatan secara langsung. Model pengembangan staff ini digunakan untuk memberikan kesempatan bagi para instruktur BIPA untuk merefleksikan pengalaman mengajar mereka secara kritis dan objektif. Dengan pola pengembangan “on-going professional development”, kontribusi terbesar dari Program RUILI investasi Sumber Daya Manusia (SDM) Pusat Bahasa UNRAM yang profesional dan solid dalam pembelajaran BIPA sebagai hasil dari pembinaan yang terus menerus dilakukan oleh RUILI maupun Pusat Bahasa sebagai bagian dari professional development. Secara kelembagaan, kontribusi Program ini adalah sebagai pembuka dan batu loncatan kerjasama internasional dalam bidang lainnya.

 Di tengah semarak pemerintah daerah NTB mempromosikan pariwisata, Program RUILI ini telah lama mempromosikan NTB di Australia melalui usaha rekan-rekan yang disebutkan di atas. Dua alasan penting yang mengantarkan mahasiswa Australia ke Lombok (Pusat Bahasa), yaitu pertama, karena program BIPA yang mulai ‘established’ setelah perjuangan cukup panjang dan kedua, Lombok sebagai destinasi baru pariwisata memiliki keindahan alam, seni dan budaya serta masyarakat yang ramah. Perpaduan pelayanan pendidikan yang baik dan pesona wisata inilah yang mengundang orang asing memilih belajar Lombok. Dengan demikian, Program BIPA Pusat bisa menjadi sarana promosi pariwisata NTB dan sekaligus berdampak pada panjangnya masa tinggal mereka di Lombok.

 PENUTUP

Sepuluh tahun perjalanan Program In-Country BIPA RUILI Asutralia – Pusat Bahasa UNRAM telah memberikan banyak pengalaman bagi manajemen, instruktur dan staff Pusat Bahasa baik pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang kurang menyenangkan. Dalam dasawarsa perjalanan BIPA ini, sejalan peningkatan pelayan yang lebih baik, terjadi peningkatan yang cukup baik. Penerapan on-going professional development yang diinisiasi oleh Dr. Untung Waluyo dan didukung sepenuhnya oleh manajemen Pusat Bahasa telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam pelayanan program internasional ini. Diharapkan sejalan dengan dukungan  peningkatan kualitas pelayanan, akan terjadi peningkatan jumlah mahasiswa yang akan belajar BIPA, baik mahasiswa RUILI maupun mahasiswa dari negara-negara lain. Bagi Nusa Tenggara Barat, program ini ikut memberikan kontribusi pengembangan pariwisata. [imadesujana]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s